MPBA Pascasarjana IAIN Parepare — Transformasi pembelajaran bahasa Arab di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya menuntut inovasi dalam proses pembelajaran, tetapi juga strategi yang tepat untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas dan menembus publikasi jurnal bereputasi. Perspektif tersebut mengemuka dalam kegiatan International Guest Lecture of Postgraduate Academic Studies (IGLoPAS) Seri ke-6 yang mengangkat tema “Arabic Language Learning in the AI Era: From Digital Innovation to Academic Writing.”
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri dengan fokus pembahasan yang saling melengkapi, yakni Dr. Nuril Mufidah, M.Pd., (Doctoral Omdurman Islamic University, Sudan, dan Dosen di UIN Maliki Malang, Indoenesia) yang membawakan materi Strategi Efektif Menulis & Submit Artikel Jurnal Bereputasi, serta Dr. Hamzah, S.S., M.Pd.I., alumni Mahad Ta'lim al-Lughah al-Arabiyah li al-Nathiqina bi Ghairiha Umm al-Qura University, Makkah al-Mukarramah, dosen sekaligus Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana IAIN Parepare, yang tampil sebagai Pemateri Utama II dengan materi AI-Powered Arabic Academic Publishing.
Kedua materi tersebut menempatkan penulisan akademik sebagai bagian penting dari pengembangan pendidikan tinggi, khususnya dalam membangun budaya riset, meningkatkan kompetensi mahasiswa pascasarjana, dan menghasilkan kontribusi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dr. Nuril Mufidah: Publikasi Ilmiah Memerlukan Strategi Sejak Awal
Dalam paparannya, Dr. Nuril Mufidah menekankan bahwa keberhasilan publikasi artikel ilmiah tidak cukup ditentukan oleh kualitas penelitian semata. Penulis juga perlu memiliki strategi dalam membangun argumentasi penelitian, menunjukkan kebaruan (novelty), menyusun manuskrip, memilih jurnal sasaran, dan menyiapkan naskah sebelum disubmit.
Ia menguraikan pentingnya menjawab lima pertanyaan mendasar sebelum menulis artikel, yaitu masalah apa yang diteliti, apa yang telah diketahui dari penelitian terdahulu, bagian mana yang masih belum terjawab, apa yang dilakukan untuk menjawab kesenjangan tersebut, dan kontribusi baru apa yang dihasilkan.
Kejelasan kelima aspek tersebut membantu penulis membangun research story yang kuat. Kebaruan penelitian juga tidak semata-mata berarti mengangkat topik yang belum pernah diteliti, tetapi dapat ditunjukkan melalui konteks, perspektif, bukti, hubungan antarkonsep, penjelasan, maupun pendekatan metodologis yang baru.
Selain itu, Dr. Nuril menjelaskan pentingnya struktur IMRaD (Introduction, Methods, Results, and Discussion) untuk membangun manuskrip yang sistematis. Penulis perlu membedakan hasil penelitian dari pembahasan, menyajikan bukti secara memadai, menginterpretasikan temuan, serta menjelaskan kontribusinya terhadap penelitian terdahulu.
Strategi publikasi juga mencakup pemilihan jurnal sasaran sejak awal dengan mempertimbangkan ruang lingkup, audiens, kesesuaian metode, artikel-artikel terbaru, kualitas jurnal, biaya publikasi, jadwal penerbitan, dan etika publikasi. Sebelum melakukan pengiriman naskah, penulis perlu memastikan kesiapan substansi ilmiah maupun persyaratan teknis, termasuk penggunaan AI sesuai kebijakan jurnal yang dituju.
Dr. Hamzah: Mengubah Pembelajaran Menjadi Produksi Ilmiah Berbasis AI dan OBE
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. Hamzah memaparkan transformasi pembelajaran menjadi aktivitas produksi publikasi ilmiah melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE) yang didukung inovasi digital dan kecerdasan buatan.
Materi AI-Powered Arabic Academic Publishing mengkritisi model pembelajaran yang berhenti pada transmisi informasi dan penyelesaian tugas konvensional. Sebagai alternatif, pembelajaran perlu dirancang untuk menghasilkan mahasiswa sebagai knowledge producer atau produsen pengetahuan, dengan luaran berupa karya ilmiah yang memenuhi standar akademik.
Melalui prinsip constructive alignment, capaian pembelajaran, aktivitas perkuliahan, dan asesmen perlu dirancang secara selaras. Dengan demikian, penggunaan AI dan perangkat digital bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan bagian dari proses yang mendukung pencapaian kompetensi dan produksi pengetahuan.
Penerapan gagasan tersebut ditunjukkan melalui pengalaman pembelajaran di kelas Mata Kuliah Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Arab pada jenjang Magister Pendidikan Bahasa Arab. Sebanyak 25 mahasiswa bekerja secara kolaboratif dalam 13 kelompok dan menghasilkan 13 artikel ilmiah yang seluruhnya telah dipublikasikan pada 7 jurnal bereputasi nasional terakreditasi 3, 4 dan 5. Sebelumnya juga di Kelas yang sama dengan Mata Kuliah Morfosintaksis Bahasa Arab pada jenjang Magister Pendidikan Bahasa Arab, juga sebanyak 25 mahasiswa bekerja secara kolaboratif dalam 13 kelompok dan menghasilkan 13 artikel ilmiah yang seluruhnya telah dipublikasikan pada 7 jurnal bereputasi nasional, bahkan 3 mahasiswa terbit di jurnal Sinta 2.
Capaian tersebut memperlihatkan potensi model pembelajaran yang menghubungkan penguasaan materi, penelitian, kolaborasi, penulisan akademik, dan publikasi dalam satu rangkaian kegiatan perkuliahan. Dalam konteks ini, AI dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung proses akademik, dengan tetap memperhatikan validitas informasi, kualitas analisis, dan tanggung jawab intelektual penulis.
Dua Perspektif, Satu Orientasi: Membangun Budaya Akademik Produktif
Jika materi Dr. Nuril Mufidah berfokus pada strategi untuk menghasilkan manuskrip yang kuat dan memublikasikannya pada jurnal yang tepat, materi Dr. Hamzah menekankan bagaimana proses pembelajaran dapat dirancang agar mahasiswa mampu menghasilkan publikasi ilmiah sebagai capaian pembelajaran.
Kedua perspektif tersebut membentuk hubungan yang saling melengkapi. Pendekatan OBE menyediakan kerangka untuk merancang pembelajaran yang berorientasi pada hasil, sedangkan strategi penulisan dan publikasi menyediakan tahapan praktis untuk memastikan bahwa luaran pembelajaran memenuhi standar komunikasi ilmiah.
Integrasi keduanya menjadi semakin relevan di era AI. Kemudahan teknologi dalam membantu pencarian informasi, pengembangan gagasan, dan penyusunan naskah perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, verifikasi sumber, transparansi metodologis, serta kepatuhan terhadap etika publikasi.
Melalui IGLoPAS Seri ke-6, kedua pemateri menghadirkan perspektif bahwa masa depan pembelajaran bahasa Arab tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan teknologi digital. Pembelajaran juga perlu menghasilkan kompetensi akademik, kemandirian intelektual, dan karya ilmiah yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, transformasi dari inovasi digital menuju penulisan akademik bukan sekadar perubahan perangkat pembelajaran, melainkan perubahan orientasi pendidikan tinggi menuju budaya akademik yang produktif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kualitas publikasi ilmiah.[]